
Area ini dirancang seperti private resort di dalam rumah: sunken lounge dengan firepit, dikelilingi batu terang, hijau tropis, dan sebuah tangga spiral berlapis metal keemasan yang terasa lebih seperti instalasi seni daripada sekadar sirkulasi. Ruang transisi ini menjadi spot paling teatrikal di rumah—tempat api, air, batu, dan patung bergerak dalam satu frame.

Fungsinya bukan sekadar teras, tetapi “atrium hidup” yang menghubungkan berbagai lantai dan ruang penting.
Sunken lounge membuat area duduk terasa lebih intim, seolah masuk ke dalam “mangkuk” batu di tengah rumah.
Tangga spiral dan patung figuratif menjadi poros vertikal yang mengikat pandangan dari bawah ke atas.
Hasilnya: ruang transisi yang biasanya terlupakan justru menjadi signature space rumah.
Di level bawah, lounge dibuat rendah dan luas dengan sofa modular yang santai.
Firepit bundar hitam di tengah menjadi fokus visual dan titik kumpul.
Layout simetris kanan–kiri sofa membuat komposisi terasa rapi, tetapi tetap casual karena seat-nya rendah dan empuk.
Anak tangga yang mengarah ke lounge sengaja dibuat lebar dan tenang, jadi terasa seperti memasuki “stage” kecil.
Api di tengah memberi alasan untuk berkumpul: ngobrol santai, minum malam, atau sekadar duduk diam menikmati ambience.
Palet warnanya bermain di tiga hal utama:
Batu terang (nuansa travertine / marble light) pada lantai dan dinding bawah, memberi kesan bersih, sejuk, dan terang.
Metal keemasan / bronze pada tangga spiral, handrail, dan beberapa garis aksen, memberi rasa glam tetapi tidak berlebihan.
Sofa cokelat susu dengan finishing lembut yang menyeimbangkan nuansa dingin batu dan metal.
Kontras tekstur—batu berurat, metal glossy, fabric matte—menciptakan kedalaman visual tanpa harus memakai banyak warna.

Tangga ini jelas bukan tangga biasa.
Bordernya yang mulus, tanpa banyak detail, membuat permukaan metal memantulkan cahaya dengan lembut.
Anak tangga batu dengan garis lighting di nosing menambah efek dramatis saat naik-turun.
Patung figur emas yang “melompat” di tengah void tangga membuat keseluruhan komposisi terasa seperti instalasi di hotel bintang lima atau galeri seni.
Setiap sudut pandang—dari atas, samping, maupun dari lounge—memberikan pengalaman visual yang berbeda.
Dinding tinggi dibungkus panel batu dengan permainan bidang menonjol-mundur dan list vertikal.
Figur-figur putih yang seolah keluar dari dinding menambah narasi: ada rasa gerak, tarian, atau momentum yang mengarah ke atas.
Garis lighting linear di sela panel mempertegas ritme vertikal dan menyatukan dinding dengan jalur tangga.
Dinding ini menjadi “background megah” yang selalu terlihat, baik dari lounge, dari tangga, maupun dari lantai atas.
Hijau tropis sengaja dikumpulkan di sudut-sudut tertentu, bukan disebar sembarangan.
Pohon-pohon dengan batang ramping dan daun rimbun (khas tropical indoor) memberi siluet kuat di depan dinding dan kaca.
Rumput ornamental berwarna cokelat kemerahan menyambungkan warna sofa dengan warna lantai, jadi transisi material terasa natural.
Alam hadir sebagai “frame” yang melunakkan geometri tegas batu dan metal.

Permainan lighting di ruang ini sangat penting:
Api di firepit memberikan cahaya hangat yang bergerak, menjadi kontras dengan garis LED yang kaku dan stabil.
Undercut lighting di anak tangga dan profil dinding memahat bentuk arsitektur tanpa perlu lampu dekoratif berlebihan.
Permukaan metal keemasan menangkap highlight dan bayangan, sehingga ruang selalu tampak hidup, bahkan saat kosong.
Hasilnya: suasana dramatis di malam hari, tetapi tetap lembut dan elegan.

Area ini menunjukkan bagaimana courtyard, tangga, dan lounge bisa disatukan menjadi satu ruang ikonik yang terasa seperti karya seni hidup. Batu dan metal memberi panggung, hijau tropis menambah napas, sementara api di tengah menyatukan semuanya dalam momen-momen intim yang hangat. Bukan sekadar ruang lewat, tetapi destinasi spesial di dalam rumah—tempat tuan rumah dan tamu ingin berhenti sejenak sebelum melanjutkan hari.